Resensi Novel La Hami
Karya “ Marah Rusli ”
1.
Judul Novel : La Hami
Pengarang
: Marah Rusli
Penerbit
: Balai Pustaka
Tahun
Terbit :
1.Cetakan Pertama 1953
2.Cetakan Kedua 1965
3.Cetakan Ketiga 1978
4.Cetakan Keempat 1986
5.Cetakan Kelima 1990
6.Cetakan Keenam 1993
7.Cetakan Ketujuh 1997
8.Cetakan Kedelapan 2000
9.Cetakan Kesembilan 2001
Tebal
buku : 170 Halaman
Nama
Mahasiswa : Resnu
Ramadhan
NIM
: 4415140853
2.
Sinopsis Novel : La Hami merupakan novel angkatan Balai Pustaka, terbit pada
tahun 1953 oleh Balai Pustaka, dan dikarang Marah Rusli. Marah Rusli lahir pada
tanggal 7 Agustus 1889 di Padang, Sumatra barat dengan nama lengkap Marah Halim
bin Sutan Abu Bakar. Buku ini merupakan karya sastra lama yang menceritakan
tentang kehidupan di Pulau Sumbawa.
Resensi ini ditulis untuk mendalami budaya
Indonesia dari novel-novel karya sastra. dalam buku ini terkisah seorang anak
Raja yang diculik dan di buang oleh Juru Bicara Kerajaan yang masih memiliki
hubungan keluarga dengan Sang Raja; dengan tujuan jika sang raja tidak memiliki
putra mahkota maka kedudukan raja akan di serahkan pada Juru Bicara Raja
tersebut. Dibawah ini adalah sinopsis tokoh dalam novel la hami
3.
Tokoh
·
La Hami
·
Ompu Keli / Raja Anjong
·
Ina Rinda / Putri Nakia
·
Maliki
·
Ute
·
Ompu Su
·
Ponto Wanike
·
Daeng Matita
·
Lalu Jala
·
Sultan Komarudin
·
Permaisuri Cahya Amin
·
Putri Sari Langkas
·
Raja Bicara
·
Putri Tamia
·
Abdul Azis
·
Santi Hati
·
Putri Nila Kanti
4.
Kutipan : “Dua puluh empat tahun lalu, yang menjadi datu rangga di
Negeri Sumbawa, ialah RAJA Anjong, sedang Garahanya bernama Putri Nakia.
Keduanya dipandang dan dimalui, disegani dan disayangi orang seluruh kerajaan
Sumbawa, sampai kepada Rajanya Sultan Badrunsyah. Sebabnya bukan saja karena
bangsawan tinggi, tetapi juga karena Raja Anjong seorang yang pandai memangku
bumi, adil dan bijaksana dalam putusannya, serta mempunyai kepandaian yang
dalam.
Datu Kalibela yang bernama Daeng Matita, adalah
seorang bangsawan yang berasal dari pulau selayar. Datu Kalibela ini adalah
seorang yang loba dan tamak kepada harta dan pangkat serta kekuasaan.
Pada suatu hari, datanglah seorang nelayan yang
bernama Genang kepada Raja Anjong, membawa kabar, bawha Ponto Wanike hendak
menyerang kota Sumbawa, karena hendak menangkap Raja Anjong. Kabar ini didengar
sendiri oleh oleh Genang dari seorang kaum bajak Ponto Wanike, yang dikenalnya
benar, tatkala ia memancing ikan di Teluk Saleh.
Beberapa hari sebelum Sumbawa akan diserang,
ditinggalkannyalah kota ini dengan Garahanya dan dua orang bujangnya yang
sangat setia kepadanya, dengan membawa apa yang sangat perlu saja baginya,
dalam perahu kecil. Berangkatlah mereka jam sepuluh malam dengan penerangan
cukup dari sinar bintang. Dua hari dua malam mereka berlayar; siang hari
memakai layar kecil dan malam hari berdayung, jika tak ada angin turutan.
Akhirnya sampailah mereka di panti sanggar ini, di mana mereka telah dua puluh
tahun hidup tersekat dari manusia dan masyarakat ramai. Supaya rahasia ini
jangan diketahui orang, ditukar merekalah namanya dengan Ompu Keli dan Ina
Rinda.” Terang Ompu Keli pada La Hami.
Di sini Ompu Keli terdiam beberapa lamanya,
sebagai melintas kembali sekalian peristiwa yang menyedihkan itu, pun Ina Rinda
mengenangkan nasibnya yang malang.
“Jika demikian, dewalah Raja Anjong, datu Rangga
Sumbawa itu dan dewa, Putri Nakia, Garaha Mangkubumi kerajaan Sumbawa,” kata La
Hami kepada Kedua orang tuanya, “Alangkah malangnya dewa Kedua, karena fitnah
dan kejahatan Daeng Matita.”
“Belum lama kami ada di sini, pada suatu pagi
tatkala aku ke pantai hendak mengail ikan, tiba-tiba terdengar oleh ku suara
anak mengeak. Hatiku berdebar, karena suara yang sedemikian, sekali-kali tidak
kusangka akan kudengar di sini. Selayang timbul takhyulku, yang menyangka suara
itu bukan suara manusia, tetapi suara jin laut, yang hendak memperdayakan daku.
Tetapi setelah teringat pula olehku, bahwa takhyul hanya ada dalam pikiran dan
perasaan yang samar, kuperiksalah tempat itu dengan seksamanya. Ya, dalam suatu
teluk kecil, kelihatan sebuah rakit yang terapung di atas air dan di atasnya
ada seorang bayi, yang sedang menangis. Ia terbaring di atas sehelai tikar
Jontal yang baik anyamannya dan diselimuti kain sutera bertekad emas, buatan
Bima. Tatkala kuangkat bayi ini, nyatalah ia seorang anak laki-laki, yang baik
parasnya dan tegap tubuhnya. Dokoh yang tergantung pada lehernya, terbuat dari
emas yang sangat halus tempanya. Dokoh, selimut dan tilam ini, yang baik
buatannya dan mahal harganya, menimbulkan keyakinan dalam hatiku, bahwa
kanak-kanak ini bukan anak sembarang orang, tetapi anak orang baik juga; kalau
bukan anak orang yang berpangkat tinggi, mungkin anak Raja-Raja. Lalu kubawa
bayi ini kepada Ibumu, yang menerimanya dengan berlinang-linang air matanya,
karena kesukaan dan kepiluan. Sekali.” terang Ompu Keli hal ihwal asal La Hami.
“Dan tahukah engkau siapa nama yang kami berikan
kepada anak ini?” Tanya Ina Rinda kepada anaknya dengan tersenyum, “La Hami,”
lalu dipeluknya anak ini.
-------------------
Di tengah-tengah keramaian dan kesukaan ini,
duduklah Putri Nila
Kanti dengan gundah-gulana rupanya, sedang
ingatannya tiada di sana.
“Mengapakah Ruma tiada bersiram?” tanya Wila.
“Tak ingin lagi,” sahutnya dengan pendek, lalu
termenung pula.
“Sakitkah Ruma?” tanya Wila pula, yang mulai
kuatir akan tuannya.
“Sesudah beta melihat wajah muka anak muda tadi,
seakan-akan hilanglah sekalian kesukaan dan keinginan hati beta. Siapakah anak
muda ini? Di mana tempatnya? Dan mengapa ia ke Dompo ini?” kata Putri Nila
Kanti pula kepada dayangnya yang dipercayai dan dikasihinya.
-------------------
Mengapa anak Raja Sanggar ini dengan
orang-orangnya tidak dibunuh saja, Kepala? Apa gunanya mereka dipelihara di
sini? Banyak kerja mengurusnya dan mereka menghabiskan makanan, sedang rahasia
kita diketahuinya. Bukankah lebih baik kalau mereka tadi dibunuh saja di luar,”
kata Karaka kepada Manderu.
“Aku hendak mencoba mendapat hasil daripadanya,”
jawab Manderu
“Bagaimana jalannya? Dijual sebagai budak ke
pulau lain?
“Mungkin. Atau kepada Ponto Wanike, bajak laut
yang mudah membawanya ke pulau lain. Tetapi lebih dahulu akan kucoba mendapat
uang tebusan dan bapaknya, Sultan Sanggar.”
“He, aturan baru,” sahut Karaka dengan berpikir.
“Dibunuh, takkan mendatang keuntungan, hanya
kecapaian. Sedang sesudah kita terima uang tebusan dan ayahnya, masih dapat
kita jual dia kepada Ponto Wanike. Dua kali untung, dengan tak rugi.”
“Memang benar,” sahut Karaka. “Tak sampai ke
sana pikiranku.”
“Dan ada yang akan lebih menguntungkan lagi dan
Lalu Jala ini’
‘Apa itu?” tanya Karaka pula dengan agak heran.
‘‘Putri Nila Kanti.’’
“Hah! Ia pun akan engkau jual?”
‘Mengapa tidak? Harganya akan lebih banyak dani
harga Lalu Jala, sebab Ia perempuan cantik.”
‘Tetapi putri ini belum ada dalam tangan kita.’
“Mustahilkah akan mendapatnya?”
“Jangan kaulupakan, ia ada dalam istananya, yang
letaknya di tengah-tengah negerinya, dijaga oleh laskarnya.”
“Engkau bukan Karaka, kalau engkau tak dapat
mencari akal, untuk mengambilnya dan pangkuan ibunya sekalipun.”
deru.
-------------------
“Ya, aku Nila Kanti, Putri Dompo. Tuan siapa?”
kedengaran suara perlahan-lahan dan dalam.
“Patik La Hami dan Sanggar, hendak melepaskan
Tuanku.” Suara jeritan yang lekas dapat ditutup, kedengaran di dalam, yang
diikuti suara sedu .... Sudah itu barulah ke luar perkataan Putri Nila Kanti,
“La Hami, tolong aku!”
“Segera Tuanku. Sabar dan diam!”
Dengan segera Lalu Hami dan Maliki menggagahi
pintu penjara mi, sehingga tiada berapa lama kemudian, terbukalah pintu mi,
yang dikunci dan luar dan ke!uarlah Putri Nila Kanti.
Di luar, Putri Nila Kanti lalu memeluk Lalu Hami
dan dengan air mata yang bercucuran Ia berkata, “Terima kasih Lalu Hami, terima
kasih kekasihku,” lalu pingsanlah ia dalam pelukan Lalu Hami.
Sekejap mata Lalu Hami tiada berkata-kata,
karena pelukan kekasihnya, yang sangat dicintainya ini dan karena perkataan
Putri Nila Kanti yang menamainya “kekasihku,” sehingga tahulah ia bahwa Putri
Nila Kanti pun cinta kepadanya. Dengan tiada diinsyafinya kedua belah tangannya
memeluk putri Dompo pula, sedang pipinya mendapat pipi Nila Kanti, yang
kepalanya tersandar di bahu Lalu Hami.
Berapa lamanya ia di dalam Surga Janah i, tiada
diketahuinya, tetapi tiba-tiba didengarnya suara Maliki, “Hamba bermohon
mencari Ruma Lalu Jala, Dewa.”
Di situ barulah Ia ingat, bahwa kekasihnya yang
ada dalam tangannya, sekali-kali belum terlepas dan bahaya pembegal yang jahat
itu. Bahkan ia ada dalam sarang harimau yang ganas, yang pada waktu itu sedang
tidur Tetapi apabila Ia bangun kembali, niscaya ia dengan kekasihnya akan masuk
ke dalam neraka jahanam. Oleh sebab itu dengan segera Ia menjawab, “Ruma Lalu
Jala serahkan kepadaku! Engkau segera membawa Putri Nila Kanti ke luar dan
tempat ini dan langsung ke Kempo. Minta pertolongan Jenali Kempo, mengantarkan
Putri Nila Kanti ke Dompo dengan pengantar yang kuat’
“Dan Dewa?” tanya Maliki dengan kuatir, “Aku
tinggal di sini menolong Ruma Lalu Jala.”“Sendiri saja?”
“Ceritakanlah! Beta ingin mendengarnya,” kata
permaisuri.
Kedua bentara ini lalu bercerita, bahwa mereka
telah menghadap Toreli Lalu Abdul Hamid, yang kebenaran sedang menilik Raja
Anjong, yang mulai sembuh dan lukanya, sedang gahara beliau, Putri Nakia pun
ada pula bersama-sama.
“Setelah patik persembahkan, bahwa patik
keduanya diutus oleh Puma Permaisuri Bima, untuk memohonkan beberapa keterangan
tentang La Hami yang telah datang ke Bima dahulu dan ayah bunda beliau Ompu
Keli dan Ina Rinda, lalu dipastikanlah oleh ketiga Ruma itu, bahwa Toreli Lalu
Abdul Hamid, memanglah La Hami, yang telah datang ke Bima ini waktu perayaan
sirih puan yang baru lalu. Beliau tiada tenggelam di Selat Sape, tetapi
terdampar di Teluk Warorada dan ditolong oleh orang Sondo, lalu kembali ke
Sanggar, sedang Ruma Raja Anjong, memanglah Datu Rangga Sumbawa dahulu yang
melarikan diri ke Pantai Sanggar, lalu menukar nama beliau di sana dengan Ompu
Keli, sedang gahara beliau yang bernama Putri Nakia, memakai nama Ina Rinda.
Toreli Lalu Abdul Hamid bukanlah putra kandung
Ruma Raja Anjong, tetapi putra angkat beliau, yang bertemu di pantai taut
Sanggar, kira-kira 24 tahun yang lalu, tatkala Ruma itu masih berusia kira-kira
sebulan.”
Permaisuri Cahya Amin pucat mukanya mendengar kepastian
ini, sedang baginda dan Putri Sari Langkas berdebar-debar jantungnya
sehingga seakan-akan gemetar tubuhnya.
“Adakah konon suatu tanda yang didapat Raja
Anjong bersamaan dengan kanak-kanak itu?” tanya permaisuri dengan gemetar
suaranya.
“Ada Ruma, patik bawa, yaitu sehelai tilam daun
Jontal, buatan Bima yang amat baik anyamannya, sehelai selimut buatan Bima
pula, yang amat permai tenunannya dan sebuah Dokoh mas, pun buatan Bima pula,
yang amat elok tempaannya.”
“Mana, mana? Segera perlihatkan kepadaku!” kata
permaisuri tergesa-gesa dengan suara yang gugup, karena tak sabar.
Kedua utusan mempersembahkan dengan segera
ketiga tanda-tanda yang dibawanya kepada permaisuri, yang seakan-akan merebut
barang-barang ini dan tangan kedua bentaranya, lalu diperhatikannya beberapa
lamanya dan diperiksanya benar-benar.
Setelah itu tiba-tiba menjeritlah ia, “Anakku!”
katanya, lalu rebah pingsan, tiada khabarkan dirinya.
5.
Kelebihan Novel : `Novel ini sangat menarik, dengan cerita yang
dikarang oleh Marah Rusli, adalah runtutan cerita nyata dari Sumbawa, dengan
hanya diganti nama dan tempat-tempat terjadinya peristiwa itu. Ini membuktikan
bahwa Indonesia, khususnya Sumbawa adalah salah satu dari keragaman warna
budaya Indonesia. Budaya akan kehidupan raja-raja yang penuh kebijaksanaan dan
kemurahan hati dan tokoh La Hami sebagai seorang Sumbawa yang memiliki kebaikan
sebagai manusia biasa dan sebagai seorang bangsawan yang berilmu dan beradab.
6.
Kekurangan Novel : Novel ini bahasa nya kurang di mengerti karena
banyak unsur melayu klasik. Dan banyak melibatkan banyak tokoh-tokoh.
7.
Amanat :
·
Jangan putus asa ketika mendapat
kesulitan karena disana pasti mendapat jalan kemudahan
·
Ketika mendapat kesulitan kita harus
pohonkan pertolongan Allah, karena Ia juga yang lebih berkuasa di dalam segala
hal
8.
Gaya Penulisan :
·
Gaya penulisan yang digunakan
pengarang adalah menggunakan bahasa Melayu dan menggunakan bahasa kerajaan –
kerajaan, sehingga sedikit menyulitkan pembaca dalam memahami maknanya.
Walaupun demikian cerita ini tetap menarik untuk di baca.
·
Selain itu terdapat beberapa majas, salah
satunya adalah majas simile seperti, “bagaikan pinang dibelah dua”.
9.
Kesimpulan
: Dengan membaca buku karangan marah Rusli ini,
diharapkan kita dapat menambah pengetahuan, baik dalam segi individu maupun
dalam berorganisasi, berbangsa, dan bernegara. Buku ini mempunyai banyak
keunggulan dengan pesan-pesan yang tersirat di dalamnya. Dan kelemahan dari
buku ini, hanya mengenai hal bahasa yang masih menggunakan bahasa Sumbawa Melayu
sebagai bahasa terdahulu negara Sumbawa. Tetapi Walaupun demikian bahasa dalam
novel ini memberikan kita pengetahuan tentang tata bahasa karya sastra lama